Loading Now

Highlight

Waspada 2026: Tekanan Politik dan Ekonomi Bisa Picu Ketidakstabilan Nasional

Analis Komunikasi Politik Hendri Satrio (Hensat) memprediksi tahun 2026 akan diwarnai ketidakstabilan politik, didorong oleh kelesuan ekonomi dan tekanan hidup yang mencekik kelas menengah. Ia mengingatkan, tanpa respons kebijakan yang cepat dan terarah, kondisi tersebut bahkan bisa mengarah pada potensi krisis.

Hensat menggambarkan kondisi kelas menengah Indonesia saat ini dengan istilah “3M”: Mantap, Maut, dan Mampus.

“‘Mantap’ adalah satu kondisi di mana kelas menengah harus makan tabungan. ‘Maut’, kelas menengah yang sudah memulai makan utang. Dan ‘Mampus’ itu dianggap sebagai, ‘Maaf, kami sudah putus asa’,” kata Hensat dalam diskusi virtual Universitas Paramadina bertajuk Outlook Politik Ekonomi, Senin (8/12/2025).

Ia menjelaskan, gambaran itu merujuk pada hasil Survei KedaiKOPI yang dilakukan pada 28 Oktober 2025. Survei tersebut menunjukkan bahwa kelas menengah mengakui pengeluaran mereka meningkat dalam tiga bulan terakhir. Hal ini, menurut Hensat, seharusnya menjadi dasar pemerintah Prabowo untuk mengeluarkan kebijakan perbaikan ekonomi.

“Sehingga memang harus ada adaptasi, harus ada perbaikan-perbaikan di kehidupan mereka. Kenapa kemudian ini menjadi landasan hari ini? Karena ekonomi di Indonesia itu sangat berperan penting pada kondisi politik ke depannya, nanti akan seperti apa,” ujarnya.

Hensat juga menyinggung pernyataan Presiden Prabowo Subianto saat menghadiri puncak HUT Partai Golkar di Istora Senayan, Jakarta, Jumat (5/12/2025). Ketika itu Prabowo menyetujui gagasan Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia soal kemungkinan pemilihan kepala daerah dilakukan secara tidak langsung melalui DPRD. Golkar turut mengusulkan adanya koalisi permanen.

“Nah, dari dua hal itu saja, kita semakin merasa bahwa ada ketidakpastian kondisi politik di 2026,” tegas Hensat.

Hensat menilai bencana nasional berupa banjir bandang di tiga provinsi—Aceh, Sumut, dan Sumbar—akan turut memperberat kondisi ekonomi nasional pada 2026.

“Jadi dalam arti, di saat ekonomi kita yang berat, bencana juga melanda kita, sehingga dalam kondisi seperti ini orang mulai menebak-nebak kira-kira kondisi ekonomi dan politik di 2026 bagaimana,” ucapnya.

Ia menambahkan, situasi global ikut memperburuk keadaan. Ketegangan geopolitik antara Jepang–China, China–Amerika Serikat, hingga dinamika ekonomi Malaysia di bawah kebijakan tarif dagang yang dipersoalkan Mahathir Mohamad, disebutnya sebagai faktor eksternal yang tidak bersahabat.

“Memprediksi bahwa di kuartal ketiga 2026, itu sangat mungkin pertumbuhan Indonesia hanya 0 persen. Nah ini membuat ekonomi makin memanas,” ucapnya.

Post Comment

HOT NEWS