Generasi Muda Didorong Melek Politik Nasional dan Global di Era Digital
Voxdei.id — Dalam sebuah forum kebangsaan bertajuk “Preferensi Politik Gen Z Indonesia” yang digelar di Jakarta, Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menyerukan pentingnya pemahaman politik bagi generasi muda Indonesia. Ia menegaskan bahwa anak muda masa kini tidak cukup hanya aktif secara sosial di dunia maya, tetapi juga harus memiliki kesadaran politik yang utuh—baik terhadap dinamika nasional maupun perkembangan global.
Menurutnya, perubahan cepat akibat kemajuan teknologi dan media sosial telah mengubah cara berpikir masyarakat, terutama generasi Z. Fenomena digital yang begitu masif telah menciptakan ruang baru dalam pembentukan opini publik. “Generasi muda harus mampu memahami perubahan zaman agar tidak mudah terpengaruh oleh arus informasi yang belum tentu benar. Politik tidak lagi hanya urusan elite, melainkan ruang partisipasi setiap warga negara,” ujar Lestari.
Ia menjelaskan bahwa di tengah derasnya informasi, propaganda politik kini tidak lagi bersifat kasar seperti masa lalu. Pola yang digunakan semakin halus—melalui algoritma media sosial, narasi influencer, hingga permainan citra politik yang menyentuh sisi emosional publik. Karena itu, literasi politik dan digital menjadi kunci agar generasi muda tidak terjebak dalam polarisasi. “Dulu kita mengenal istilah brainwashing, sekarang bentuknya lebih lembut dan sistematis. Tanpa disadari, itu bisa mengubah pola pikir dan bahkan orientasi politik seseorang,” tambahnya.
Lestari juga menyoroti pentingnya pemetaan karakter dan kecenderungan politik anak muda. Menurutnya, dalam satu keluarga saja sudah bisa ditemukan perbedaan signifikan antara generasi yang tumbuh di masa analog dan mereka yang hidup sepenuhnya di era digital. “Anak-anak usia belasan hingga dua puluhan tahun tumbuh dengan realitas yang sangat berbeda. Dalam satu rumah bisa muncul dua pandangan politik yang kontras karena perbedaan cara mereka mengakses dan menafsirkan informasi,” jelasnya.
Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika politik nasional. Mereka harus terlibat aktif, kritis, dan konstruktif. Kesadaran ini penting menjelang tahun-tahun politik menuju Pemilu 2029, di mana bonus demografi akan menjadikan suara muda sebagai kekuatan penentu masa depan bangsa. “Kita tidak boleh membiarkan generasi muda kehilangan arah karena diseret arus politik yang dangkal. Mereka harus menjadi subjek perubahan, bukan objek manipulasi,” tegasnya.
Selain itu, Lestari menekankan bahwa memahami politik global juga menjadi kebutuhan mendesak. Dalam dunia yang saling terhubung, kebijakan internasional, isu iklim, teknologi, dan ekonomi dunia memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, generasi muda perlu membuka diri terhadap diskursus global dan membangun perspektif geopolitik yang matang.
Ia pun menutup dengan pesan rekonsiliasi dan kebangsaan: perbedaan pandangan politik adalah hal yang lumrah, namun jangan sampai memecah belah bangsa. “Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera hanya dapat dicapai jika kita menghormati perbedaan serta menjadikan politik sebagai alat persatuan, bukan pertengkaran,” tandas Lestari.
Forum diskusi ini menghadirkan antusiasme tinggi dari peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa, aktivis muda, dan pegiat sosial. Banyak di antara mereka yang menilai pesan tersebut relevan di tengah maraknya hoaks, politik identitas, dan degradasi kepercayaan publik terhadap lembaga negara. Generasi Z diharapkan mampu menjadi generasi reflektif yang menggunakan media digital sebagai sarana pendidikan politik, bukan sekadar ruang hiburan atau kontestasi opini.
Secara keseluruhan, seruan untuk melek politik ini menggambarkan arah baru pembinaan demokrasi Indonesia: bahwa partisipasi politik masa depan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan partai atau elite, tetapi oleh kesadaran kolektif warga muda dalam membangun etika kebangsaan, literasi politik, dan tanggung jawab terhadap masa depan republik.


Post Comment