Loading Now

Highlight

Asa dan Risau di Dada Perantau Sumatra Usai Bencana

Jantung Iskandar berdegup kencang. Ada yang janggal sore itu, Kamis 27 November 2025. Tiba-tiba grup WhatsApp perantau asal Padang Laweh Malalo yang bermukim di Jabodetabek, tidak putus-putusnya memuntahkan notifikasi. Bakda Magrib, saat ia baru bisa mengecek isi percakapan, kekhawatirannya terbukti.

Banjir bandang atau orang Minangkabau menyebutnya galodo, menghantam kampung halamannya setelah hujan berhari-hari. Ia segera menelepon orang tuanya di kampung. Nihil jawaban. Dicoba mengontak Si Bungsu, adiknya yang juga tinggal di kampung, setali tiga uang, panggilan tidak dapat tersambung.

Baru pada Jumat pagi, Iskandar bisa bernapas lega. Adiknya mengontak, membawa kabar tak sedap. Nagari di dekat Danau Singkarak itu sudah luluh lantak. Material longsor terbawa banjir hingga menerjang desa. Rumah, jembatan, sawah, semua porak-poranda. Listrik pun padam, membuat sinyal raib.

“Ternyata di kampung itu situasinya benar-benar hujan sangat deras, lampu mati, dan air di bukit itu semakin membesar,” ujar Iskandar, Kamis (18/12/2025).

Hampir sepekan hujan tak henti menyiram wilayah Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar. Di Jakarta, Iskandar diliputi waswas. Beruntung, orang tua dan adiknya selamat.

Kabupaten Tanah Datar memang nihil korban jiwa dalam bencana kali ini, namun kerugian materiil teramat telak. Padang Laweh Malalo terisolasi, akses jalan dan jembatan putus total.

Sejumlah rumah terdampak banjir, bahkan hanyut dibawa air. Beruntung, rumah orang tua Iskandar masih tegak. Namun sehari pascabencana, keluarganya sepakat mengungsikan mereka ke Jambi.

“Korbannya itu materi seperti rumah, sekitar 178 yang hancur. Dan juga ada yang hanyut ke Danau Singkarak. Jalan-jalan yang akses-aksesnya jembatan terputus total. Jadi tidak bisa untuk dilewati mobil,” ujar Iskandar.

Kini, hujan yang kerap mengguyur Jakarta membuat Iskandar kian risau. Laporan dari kerabat menyebut Padang Laweh Malalo masih didera hujan. Jika malam turun, air tumpah seperti keran bocor. Listrik memang sudah menyala, namun situasi jauh dari pulih. Bongkahan batu besar dan kayu gelondongan masih menyumpal sungai serta ruas jalan.

Banyak warga kampungnya dan dari nagari tetangga bermukim di pengungsian. Ada yang tak punya pilihan karena rumahnya sudah rata. Ada yang memilih cari aman, takut galodo kedua datang.

Di Jakarta, Iskandar semakin intens menghubungi orang tuanya. Pasalnya, orang tua Iskandar bersikukuh ingin pulang dari Jambi ke kampung halaman. Iskandar hanya bisa berharap penanganan pascabencana dipercepat.

Ia cemas jika kayu-kayu di perbukitan tidak segera diangkut, galodo akan datang lagi dengan amuk yang lebih buruk.

“Tapi terkait anaknya yang di rantau, dia (orang tua saya) hanya minta doa. Tolong doakan supaya kami dalam keadaan baik-baik saja, supaya kampung halaman kita baik-baik saja. Karena untuk meminta pulang, saat ini dia mungkin belum mau, takut menyusahkan anak,” ujar pria berusia 43 tahun itu.

Bagi perantau seperti Iskandar, ketakutan dan harapan berkelindan. Alat berat memang sudah tiba, tapi geraknya lambat karena harus bergantian dengan desa lain. Logistik mungkin masih aman untuk saat ini, tetapi esok menjadi tanda tanya besar.

Sawah dan kebun yang tertimbun longsor memutus nadi ekonomi warga. Kondisi kampung yang terisolasi membuat aliran bantuan bisa tersendat.

Di tanah orang, kekuatan datang dari kawan-kawan sekampung. Iskandar dan para perantau lain di Jabodetabek, terus membantu keperluan dari jauh sebisa mereka. Tinggal harapan yang timbul tenggelam kepada negara agar kampung mereka ditangani dengan cepat.

“Kami masih berharap seluruh perantau dan warga-warga, pemerintah memperhatikan ini bagaimana jangka panjangnya kampung halaman kami. Karena benar-benar masyarakat tidak bisa, tidak ada pencarian sama sekali,” terang Iskandar.

Warga Bantu Warga

Bencana ekologis menerjang Sumatra akhir November 2025 di tiga provinsi: Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Hantaman Siklon Tropis Senyar bertalian dengan bentang alam yang terdegradasi akibat aktivitas ekstraktif. Kondisi ini menciptakan salah satu bencana hidrometeorologi terburuk di Indonesia dalam satu dekade terakhir.

Di perantauan, warga Sumatra yang kampungnya terdampak bencana, dirundung gamang. Mereka menanti perkembangan situasi dengan cemas. Apalagi, banyak daerah pedalaman masih terisolasi.

Syukurnya, solidaritas menjadi satu-satunya penawar risau di tanah rantau. Muncul gerakan warga yang mengharukan. Sejumlah warung makan menggratiskan mahasiswa dan perantau asal Sumatra. Kampus-kampus mendata mahasiswa terdampak untuk diberikan keringanan biaya.

Dilla (19), mahasiswi semester 3 di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Medan (UINSU), salah satu yang merasakan gelombang solidaritas ini. Kamis, 27 November 2025 malam, Dilla yang sudah dua tahun merantau di Kota Medan, dikejutkan oleh informasi di media sosial. Kampungnya di Desa Besilam, Padang Tualang, Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, diterjang banjir besar.

Seumur-umur tumbuh di kampung yang masyhur dengan wisata religi itu, Dilla tidak pernah merasakan banjir. Paling-paling apabila rinai membandel, selokan luber menjadi genangan. Maka ketika menonton video air bah menghantam rumah hingga roboh, hatinya mencelos.

Ayahnya sempat tak bisa dikontak. Baru beberapa jam kemudian, sang ayah memberi kabar bahwa mereka selamat di pengungsian, meski air semata kaki bertamu ke rumah mereka.

“Dia cuma kasih tahu keadaan. Kalau misalkan di sana udah pada ngungsi, udah aman. Makan juga aman karena makannya ditanggung. Ada satu kayak rumah suluk [Tuan Guru] tanggung buat warga,” kata Dilla, Kamis (18/12).

Berdasarkan data BPBD Langkat pada 9 Desember 2025, banjir telah merendam 16 kecamatan, merusak 10.444 rumah, 91 fasilitas umum, 81 sekolah, 4.677 hektare sawah, hingga 55 rumah ibadah. Bencana di Langkat ini merenggut sebanyak 13 korban jiwa.

Dilla merasa beruntung, di desanya banjir tidak begitu parah. Air cepat surut, menyisakan lumpur yang sukar dibersihkan. Keluarganya dapat pulang ke rumah lebih cepat. Sedangkan rumah di desa tetangga, banyak yang rebah imbas hantaman luapan sungai.

Namun kala itu, Dilla dipusingkan persoalan lain. Banjir membuat situasi daerah Kabupaten Langkat bak mati suri. Di sisi lain, tenggat membayar uang kos dan katering jatuh tempo. Dalam situasi darurat itu, ayahnya di kampung mengabarkan belum memungkinkan berkirim uang.

Kekhawatiran Dilla menguap setelah pemilik kos memberikan angin segar. Mahasiswa yang terdampak bencana, boleh menunda pembayaran. Bahkan, katering tetap dibagikan sampai situasi keluarga pulih.

“Alhamdulillahnya ibu kosnya baik. Dia kayak, yaudah nggak apa-apa nanti kalau semuanya sudah pulih saja transfer,” ujar Dilla.

Berharap Pemerintah Bergerak Lebih Cepat

Kemanusiaan, memang aspek yang paling penting untuk dikemukakan dalam situasi bencana dan katastrofe. Menenangkan melihat warga bahu-membahu menguatkan dan mengulurkan tangan.

Semestinya, aspek kemanusiaan inilah yang dijunjung pula oleh jajaran pemerintah dalam penanganan bencana. Tanpa kemanusiaan, penanganan bakal membentur tembok pongah birokrasi. Jika sudah begitu, tak heran jika pemulihan situasi berjalan kurang maksimal.

Di Aceh, misalnya, bendera putih dikibarkan warga karena tak mampu menahan penderitaan setelah bencana. Bendera itu menjadi tanda bahwa pemerintah belum hadir sepenuhnya. Ribuan warga Aceh hingga Jumat (19/12/2025) pagi, masih terisolasi akibat akses jalan dan jembatan hancur. Data terakhir menunjukkan sedikitnya 54.480 warga di Aceh Tengah, Bener Meriah, dan Gayo Lues, belum bisa dijangkau arus bantuan secara normal.

Penyintas di wilayah terisolasi kekurangan logistik, bahkan terancam penyakit. Situasi yang di Jakarta disebut segelintir elite bisa ditangani, ternyata tidak sesederhana itu. Sebagian warga bahkan terpaksa berjalan puluhan kilometer untuk mencari bantuan.

Lambannya pemerintah dalam menangani wilayah Aceh terisolasi membuat para perantau asal Tanah Rencong dilanda kecemasan. Ini sebagaimana dirasakan Heiru (26) asal Bener Meriah, yang sudah tiga tahun merantau di Jakarta.

Heiru masih ingat, tiga hari sebelum bencana melanda, ia masih melakukan panggilan video dengan ibunya yang tinggal di Kecamatan Mesidah, Bener Meriah. Tapi pada Kamis (27/11), Heiru mendapatkan kabar dari sesama perantau, air bah telah menyergap Aceh.

Desa di dataran tinggi itu memang diakui susah sinyal, bahkan hanya segelintir warga yang bermain medsos. Maka ketika hari itu telepon Heiru tidak tersambung ke kampung, ia cukup tenang.

Empat hari berlalu, Aceh porak-poranda, namun tak ada yang mengabarkan kondisi di Bener Meriah, terutama situasi Kecamatan Mesidah. Selama itu pula, belum ada kabar dari ibu dan adiknya.

Hari kelima, Heiru dan perantau Aceh lainnya mendatangi kantor BNPB di Jakarta. Mereka menanyakan kondisi kampung dan keluarga masing-masing. Tak memuaskan, BNPB mengaku belum mendapatkan data dari wilayah Mesidah.

“Ya gimana mau dapat data, orang main sosmed aja di sana jarang. Mereka kebanyakan petani kopi, sinyal saja susah, ya mestinya dicek langsung,” ujar Heiru, Kamis (18/12).

Baru pada hari kedelapan setelah bencana, Heiru menerima telepon dari adiknya. Keluarga Heiru selamat, namun kondisi Bener Meriah kacau balau karena terisolasi. Sinyal tak muncul. Listrik masih sering mati, orang-orang kelaparan karena logistik bantuan datang terbatas.

Berbicara tak lebih dari 10 menit, adik Heiru menceritakan bahwa warga hanya dijatah beras dua kilogram per kepala keluarga untuk beberapa hari. Bensin dan beras dijual tinggi di level tidak wajar. Lalu telepon terputus.

Sampai Heiru diwawancarai, belum ada kabar lagi dari ibu dan adiknya di Mesidah. “Mungkin karena pakai Starlink atau WiFi entahlah, tapi belum ada kabar lagi sampai sekarang. Kayaknya karena terbatas, harus gantian sama keluarga lain. Udah hampir sebulan bencana, baru itu sekali saya tahu kabar keluarga,” terangnya.

Heiru sempat mendapatkan kabar dari kakaknya yang menetap di wilayah Kecamatan Bukit, Bener Meriah, bahwa ibu dan adiknya di Mesidah aman. Hanya saja kebutuhan logistik kian menipis. Bantuan menumpuk di kota-kota besar, sementara di wilayah terisolasi tersendat.

Heiru berharap pemerintah mempercepat penanganan wilayah-wilayah Aceh yang terisolasi. Terutama pasokan logistik, listrik dan telekomunikasi. Ini agar perantau yang menanti nasib keluarga di kampung halaman macam dia, dapat tidur lebih tenang.

“Aku takutkan wilayah-wilayah pedalaman ini anak bayi butuh menyusui, bagaimana mereka menyusui sementara ibunya aja pun kelaparan. Pemerintah perlu diperhatikan, pemerintah pusat atau pemerintah daerah, mereka harus memberikan bantuan kepada yang tepat,” ujar Heiru.

Respons Pemerintah
Pemerintah mengklaim penanganan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat menunjukkan kemajuan. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator PMK, Pratikno, melalui keterangan tertulis, Jumat (19/12/2025).

Pratikno menyebut sejumlah ruas jalan strategis mulai pulih, layanan dasar berangsur normal, serta pembangunan hunian ditargetkan bisa rampung bertahap.

“Ini berkat elemen masyarakat bahu-membahu dalam solidaritas dan gotong-royong, dan keseriusan pemerintah yang telah menetapkan bencana Sumatra sebagai prioritas nasional,” kata Pratikno.

Post Comment

HOT NEWS