Loading Now

Highlight

Dosis Tinggi Rifampisin Tak Obati Lebih Baik Meningitis TB

HASIL penelitian terbaru menunjukkan penggunaan obat rifampisin dosis tinggi tidak lebih menyelamatkan orang dengan meningitis tuberkulosis atau meningitis TB dari kematian. Ada pun efek samping dari obat dosis tinggi itu tidak memiliki perbedaan signifikan dibandingkan dengan dosis standar.

“Jadi tampaknya tidak ada isu keamanan obat pada dosis tersebut,” kata Guru Besar dari Departemen Ilmu Kedokteran Dasar Universitas Padjadjaran (Unpad), Rovina Ruslami,Selasa kemarin 23 Desember 2025.

Rovina adalah salah seorang peneliti utama dalam riset uji klinis fase tiga terhadap obat rifampisin oral dosis tinggi untuk meningkatkan angka kelangsungan hidup pasien meningitis TB usia dewasa atau disebut HARVEST. Penelitian ikut melibatkan institusi riset dari berbagai negara yaitu Indonesia, Uganda, Afrika Selatan, Belanda, dan Amerika Serikat. Hasil riset telah dipublikasikan pada 18 Desember 2025 di New England Journal of Medicine (NEJM).

Pertanyaan penting dari riset itu adalah, apakah pemberian rifampisin dengan dosis tinggi dapat lebih menyelamatkan orang dengan sakit meningitis TB dari kematian dibandingkan dengan rifampisin dosis standar.

Sebelumnya, dari hasil uji klinis fase dua, rifampisin dosis tinggi dinilai berpotensi menyelamatkan nyawa pasien meningitis TB. Hasil riset yang dipublikasi di Lancet Infectious Disease pada 2013 itu kemudian dilanjutkan tim yang di dalam negeri melibatkan peneliti dari Unpad, Universitas Indonesia, dan Oxford University Clinical Research Unit Indonesia itu.

Menurut Rovina, uji klinis fase 3 dilakukan karena pada uji sebelumnya menunjukkan kebermanfaatan dan tidak ada isu keamanan yang bermakna. Uji lanjutan untuk mencari konfirmasi temuan sebelumnya dengan skala yang lebih besar, dari berbagai lokasi penelitian, dan berbagai negara.

Pemilihan pasiennya juga lebih longgar dengan kondisi yang lebih beragam dan menggambarkan kondisi nyata di lapangan. “Hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa hasil uji klinik fase 2 yang tampak menjanjikan menjadi tidak bermakna di fase 3,” ujar Rovina.

Dari hasil riset terbaru itu, tidak serta merta pengobatan meningitis TB harus kembali ke dosis standar. Seperti diketahui, penggunaan obat rifampisin dosis tinggi yaitu 900 miligram untuk pasien meningitis TB sudah berlaku di banyak negara termasuk di Indonesia sejak 2021. “Secara umum, pedoman pengobatan hanya akan berubah bila ada bukti kuat bahwa dosis baru lebih baik, atau lebih aman,” kata Ahmad Rizal Ganiem , peneliti utama lainnya dari Departemen Neurologi FK Unpad dan RS Hasan Sadikin Bandung.

Dalam penjelasan Rovina sebelumnya, meningitis TB sering kali tidak terdiagnosis dan ketika sudah dikenali pengobatannya masih belum optimal dengan angka kematian yang tetap tinggi. Salah satu tantangan utama adalah obat yang digunakan untuk TB paru tidak mencapai otak secara efektif.

“Karena itulah uji klinik riset sangat penting untuk menghasilkan bukti ilmiah dalam mengobati pasien dengan penyakit yang sangat berat ini,” katanya lewat siaran pers Unpad pada Senin 22 Desember 2025.

Meningitis TB merupakan penyakit tuberkulosis yang menyerang selaput dan jaringan otak. Penyakit terberat dari tuberkulosis ini umumnya menyerang anak-anak dan orang dewasa muda. Dengan pengobatan yang ada saat ini, sekitar satu dari tiga orang pasiennya tetap akan meninggal. Jika pun pasien sanggup bertahan hidup, umumnya mengalami kecacatan.

Sampai saat ini, pengobatan meningitis TB masih mengikuti pola pengobatan TB paru, dari jenis obat, dosis, dan lama pengobatan, padahal lokasi dan organ yang sakit berbeda. Jaringan otak dilindungi oleh mekanisme khusus yang membuat obat TB sulit menembus selaput otak untuk sampai ke dalam jaringan otak.

Telah banyak upaya dilakukan untuk memperbaiki hasil akhir pengobatan. Salah satunya dengan meningkatkan dosis obat rifampisin sebagai salah satu obat utama dalam pengobatan TB agar lebih banyak obat yang bisa masuk ke jaringan otak.

Metode itu pada 2010 diteliti tim dari Unpad yang bekerja sama dengan Radboudumc, Belanda. Pada uji klinis fase 3 atau tahap akhir, tim riset merekrut 499 pasien meningitis TB dewasa di sembilan rumah sakit di tiga negara yaitu Uganda, Afrika Selatan, dan Indonesia. Sekitar 60 partisipan itu hidup dengan HIV, dan sebagian besar sudah dalam kondisi berat atau kritis saat ikut penelitian.

Seluruh partisipan riset menerima rifampisin dosis standar dan tinggi serta mendapatkan obat TB lainnya serta kortikosteroid sesuai standar pengobatan meningitis TB. Setelah enam bulan pengobatan, tidak terdapat perbedaan angka kematian pada kelompok partisipan. “Mengetahui apa yang tidak efektif sama pentingnya dengan mengetahui apa yang efektif,” kata Darma Imran, peneliti utama dari Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo. Periset di Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dalam keterangan tertulis yang sama.

“Hasil ini membantu dokter menghindari terapi yang menambah risiko tanpa manfaat, sekaligus memperkuat dasar ilmiah untuk memperbaiki pelayanan pasien meningitis TB,” katanya menambahkan.

Post Comment

HOT NEWS